Artikel Keberkahan dibalik Pandemi oleh Ustadzah Sofi Syamilatul Fahmi

17 Oktober 2021 19:42 Di tulis oleh Admin KOLOM GURU Artikel Keberkahan dibalik Pandemi oleh Ustadzah Sofi Syamilatul Fahmi

Keberkahan di Balik Pandemi

Ditulis oleh: Sofi Syamilatul Fahmi

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina akhir Desember 2019 telah melanda hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada akhirnya sejak tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. Tidak bisa dipungkiri, wabah massif ini menyebabkan kepanikan luar biasa bagi seluruh masyarakat dan menjadi “tsunami” bagi seluruh sektor kehidupan.

 

Update corona dari laman Worldometers, Rabu (13/10/2021) pagi, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 239.415.120 (239 juta) kasus. Di bidang ekonomi pemerintah mencatat kerugian yang harus ditanggung akibat pandemi Covid-19 senilai Rp 1.356 triliun sepanjang 2020. Adapun angka kerugian ini setara 8,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) minus 2,07 persen pada 2020. Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi menyebut terjadi peningkatan angka kemiskinan di Indonesia akibat Covid-19. Jika sebelum pandemi angka kemiskinan berkisar 9,5% dari jumlah penduduk Indonesia. Begitu juga dengan dunia pendidikan terganggu akibat pandemi Covid-19.

 

Merujuk pada surat edaran Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, maka beberapa daerah di Indonesia memutuskan menetapkan kebijakan meliburkan siswa dan mulai menerapkan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau online. Kebijakan pemerintah ini mulai efektif diberlakukan di beberapa wilayah provinsi di Indonesia yang berdampak buruk terhadap Covid-19 yaitu hari Senin, 16 Maret 2020 yang juga diikuti wilayah-wilayah provinsi lainnya.

 

Namun ternyata, kegiatan tersebut diketahui memiliki dampak negatif, yakni learning loss atau menurunnya kompetensi belajar peserta didik. Hal ini juga diungkapkan oleh peneliti dari Universitas Oxford, Michelle Kaffenberger. Menurut Kemendikbudristek, learning loss adalah hilangnya kesempatan belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran yang mengakibatkan penurunan penguasaan kompetensi peserta didik. Menurut Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid, learning loss adalah hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan oleh peserta didik.

 

 

 

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan kemudahan dalam segala urusannya.” 

(QS At-Talak: 4)

 

Sebenarnya learning loss ini bukan hanya hilang masa masa mendapatkan ilmu pengetahuan saja. Ada hal lain yang lebih penting dan perlu kita sikapi bersama, baik oleh tenaga pendidik maupun orang tua, hal apakah itu?  Hilangnya penanaman karakter. Itulah salah satu dampak dari hilangnya waktu belajar. Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual saja tetapi juga harus diberi pembelajaran dalam segi moral dan spiritualnya.

 

Pendidikan karakter di sekolah berupa memberi contoh yang jadi teladan murid diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan. Sehingga, dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil segala hal.

 

Teknologi informasi dan komunikasi dapat dijadikan sebagai alat untuk memudahkan proses mengajar oleh guru. Selain itu, dapat dimanfaatkan oleh para siswa pula untuk menggali lebih banyak ilmu. Apabila guru dan siswa mampu menggunakan teknologi ini dengan baik, maka kualitas pendidikan di Indonesia pun akan semakin membaik. Teknologi informasi dan komunikasi telah jadi penolong media pembelajaran selama kondisi pandemi Covid 19.

 

"Praktik pendidikan di era digital memang memerlukan inovasi dan kreasi yang terus-menerus sehingga anak didik tidak mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan.”

 

Sekolah sebagai satuan pendidikan harus terus melakukan perubahan-perubahan, terlebih kepada para guru untuk terus melalukan kreatifitas dan inovasi pembelajaran selama pandemi. Guru harus lebih massif meningkatkan kemampuan di bidang teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

Hakikat pendidikan adalah proses pembelajaran sebagai upaya untuk mengembangkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik dengan cara berinteraksi langsung dan dapat mengahasilkan pengalaman belajar. Peran orang tua lebih besar dibandingkan masyarakat dan stakeholder lainnya. Pemindahan “kekuasaan” pembelajaran dari sekolah ke rumah menjadi tantangan yang luar biasa bagi orang tua sebagai garda terdepan pendidikan era pandemi Covid-19. Hadirnya orang tua dalam mendampingi anak-anaknya pada proses belajar dari rumah adalah sesuatu yang yang sangat bermakna bagi anak-anak. Ada peran yang tidak kalah pentingnya yaitu doa. Peran orang tua dalam mendoakan kesuksesan anak, berhasil menjadi generasi yang sholih sholihah, membawa manfaat untuk dunia dan akhirat.

 

 

"Belajar yang sesungguhnya adalah tidak berhenti sejak dari dalam kandungan hingga liang lahat."