MERDEKA BELAJAR, BELAJAR MERDEKA. Oleh: Eka Fitrianingsih, S.Pd

26 November 2021 14:19 Di tulis oleh Admin KOLOM GURU MERDEKA BELAJAR, BELAJAR MERDEKA. Oleh: Eka Fitrianingsih, S.Pd

Pada awal tahun 2020 Indonesia mulai dihadapkan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia yakni wabah covid 19, sudah pasti memiliki dampak yang signifikan disegala sektor. Salah satunya adalah pendidikan, seperti terdapat arus listrik pendek yang membuat kejutan-kejutan bahwa kita harus berubah dan mencari cara agar pendidikan tetap berjalan. Berangkat dari kondisi inilah pada akhir desember 2020 keluarlah kebijakan baru dari Mas Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim yakni “Merdeka belajar” yang terinspirasi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia., dimana merdeka belajar merupakan konsep belajar  yang lebih memberikan ruang kebebasan bagi siswa dalam belajar memilih sesuai dengan minat bakat tanpa adanya tekanan baik dari orang tua dan guru. Jika dianalogikan peran guru seperti petani dalam menanam padi, dimana petani tidak bisa menentukan arah tumbuh kembangnya padi merunduk, petani hanya mengikuti kemana arah tumbuh kembangnya padi tanpa mengurangi kualitas, itulah peran guru dan orang tua dalam proses pembelajaran terutama dalam masa Pandemi seperti saat ini.

Seiring berjalannya waktu, pandemi covid 19 ini memicu  perkembangan berbagai tekhnologi sehingga bermunculan berbagai media pembelajaran secara on line yang bisa dijadikan sebagai sarana belajar jarak jauh, seperti Ruang Guru, Bimbel Online dan lain sebagainya. Dimana mereka bisa belajar tanpa harus datang ketempat tersebut, kondisi ini sangat mendukung dikarenakan masa PPKM saat ini yang digunakan pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan kasus Covid 19. Terlepas dari hadirnya berbagai media pembeljaran pada masa pandemi ini, apakah media ini sudah sesuai dengan konsep merdeka belajar siswa?? Belum, sama sekali belum. Marilah kita coba telusuri konsep merdeka belajar yang sebenarnya sudah terkonsep dengan baik oleh Ki Hajar Dewantara untuk anak negeri.

Dalam Filosofis Merdeka Belajar yang di gagas oleh Ki Hajar Dewantara setidaknya ada tiga poin yang bisa dikembangkan dalam Pengajaran dan pembelajaran diantaranya 1) Taman Siswa, 2) Pamong, 3) Among. Taman siswa yang telah mewariskan cikal bakalsistem pendidikan yang berlandaskan budaya lokal Indonesia. Taman Siswa merupakan wadah sebuah sistem persekolahan dimana Taman identik dengan sebuah tempat bermain yang menjadikan kegembiraan dan keindahan untuk pengunjung,dimana mereka bisa bereksplorasi dan berkembang sesuai dengan keinginan dan kemampuan siswa yang dilengkapi oleh pengajar sesuai kebutuhan masing-masing secara individu. Kemudin prinsip Among menempatkan siswa sebagai prioritas utama yang harus dilayani, bahwa kemerdekaan siswa untuk belajar sesuai keinginan dan kemampuan secara alamiah terbentuk. Sedangkan prinsip Pamong adalah sebagai Fasilitator dalam proses pengajaran kalau di analogikan seorang petani yang menanam padi hanya bisa membantu dalam proses penanaman, namun tidak bisa untuk menentukan kemana arah mana padi akan tumbuh., dalam hal ini berarti prinsip pamong dan among lebih kepada memperhatikan minat bakat dan kemampuan siswa, serta memberikan dukungan yang diperlukan terhadap perkembangan siswa, tanpa mengurangi keinginan siswa dalam tumbuh dan berkembang. Dukungan guru berupa dukungan yang bersifat Psikologis, seperti memberi motivasi memenuhi kebutuhan belajarnya, serta berperan aktif ketika siswa mengalami kesulitan dalam proses belajarnya.

Begitu jelas dalam pemaparannya bagaimana Ki Hajar Dewantara dalam gagasannya mengenai proses pembelajaran yang identik dengan bebas namun dikemas dengan budaya lokal. Bagaimana dengan implementasi bagi sekolah ketika Mas Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim mulai menerapkan konsep merdeka belajar, yang saat ini menurut penulis sangat sesuai dengan kondisi Pandemi dan juga tantangan zaman di Era digital 4.0. untuk itu hampir di setiap sekolah termasuk sekolah kami mulai menerapkan konsep pembelajaran diantaranya synchronous dan asynchronous. Agak unik karena konsep merdeka belajar ini juga harus diimbangi dengan sejumlah tekhnologi agar berjalan seirama dalam mendukung pembelajaran secara jarak jauh. Disinilah bagaimana peran guru dalam pembelajaran yang dilakukan haruslah inovatif dan mengandung konten sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Tidak lagi mengikuti pembelajaran ala kolonial yaitu “Teacher center”,  Peran Among dalam konteks peserta didik bisa dengan bebas dalam mengerjakan tugas dan pembelajaran yang disediakan oleh Guru melalui media online tanpa harus terikat dengan tempat dan waktu. Hal ini berlaku ketika masih belum di perbolehkan adanya PTM. Dimana guru dan siswa bisa mengatur waktu dalam melakukan proses belajar dan mengajar. Guru bisa juga melakukan konsep pertemuan bersama di waktu yang sama untuk melakukan tatap muka walaupun dnegan jarak jauh, iniah yang disebut sebagai pembelajaran synchronous. Konsep ini yang kemudian kami pakai disekolah kami sebelum PTM di sekolah kami di perbolehkan oleh pemerintah. Namun apabila baik siswa ataupun berhalangan dalam melakukan tatap muka jarak jauh maka masih ada solusi lain dalam melakukan pembelajaran yaitu adalah dengan melakukan pembelajaran asynchronous . dimana siswa bisa mengatur waktu belajarnya sesuai dengan kebutuhannya melalui beberapa media belajar seperti Google Class Room yang sudah berisi materi pembelajaran, tugas dan latihan ulangan. Disinilah letak kemerdekaan belajar dimana guru berusaha seinovatif mungkin dalam menyampaikan materi, mengemas materi agar membuat anak merasa senang ketika belajar, sedangkan siswa ada rasa merdeka yang diringi dengan komitmen dalam belajar, bukan bebas tanpa batas.Selain mengerjakan dari apa yang sudah tersajikan metode pembelajaran yang bisa membuat siswa itu berkembang di masa pembelajaran pandemi ini adalah metode pembelajaran Proyek Based Learning dimana mereka ketika berada di rumah tidak hanya saja terpaku dalam dunia online dengan seperangkat device dan berbagai aplikasi. Mereka bisa melakukan penelitian sederhana yang mengangkat tema-tema berkaitan dengan pandemi saat ini baik dari berbagai sektor.

Konsep merdeka belajar dalam aplikasi bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan, karena pandemi telah memaksa kita untuk berubah demi kelangsungan pembelajaran. Dipaksa untuk merubah mine set dalam proses pengajaran, dipaksa untuk mengerti tekhnologi yang diringi sikap resilience sehingga lahirlah konten-konten pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Bukan hanya itu hambatan lain yang banyak ditemui adalah mengenai cara berpikir dalam menyikapi perkembangan tekhnologi sebagai bentuk pelatihan media pembelajaran dimana banyak sekali bahwa ketika guru sudah berhasil menguasai sebuah tekhnologi maka merasa berhasil dalam menyajikan sebuah materi kepada siswa yang belum tentu itu sesuai dengan kebutuhan siswanya. Disini cara berpikir merdeka mengajar seorang guru di uji, bagaimana seorang guru harus bisa membuat konten pembelajaran kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan tekhnologi sebagai sarana pendukungnya , berubah ke arah metode yang sesuai kebutuhan siswa, tidak lagi menjadikan dirinya sebagai Teacher Center  melainkan  Siswa center . inilah yang dimaksud dengan peran pamong dan among dalam proses pembelajaran yang digagas oleh  Ki Hajar Dewantara jauh sebelum Indonesai merdeka. Lain guru lain dengan siswa dalam implementasi merdeka belajar. Selalu ada saja tantanganya. Bagi siswa tantangan merdeka belajar bagi mereka adalah mengenai model pembelajaran yang berubah terbalik dari sebelumnya. Yang sebelumnya terbiasa dengan pembelajaran tatap muka dan cenderung one direction atau Teacher center. Menjadi seperti kehilangan arahan dari sang guru. Sebuah pemikiran merdeka belajar yang bukan pada esensinya seperti merasa bebas tanpa komitmen mengenai tanggung jawab dalam belajarnya, cenderung terbawa dalam bermain kedalam permainan sosial media diluar batas kendali. Dalam kondisi pandemi seperti sekarang peran guru tidak hanya dalam perubahan metode mengajar melainkan juga harus mengembangkan diri dalam pola komunikasi jarak jauh untuk mendekatkan hati-hatinya kepada siswanya agar timbul ikatan batin antara guru dan siswa sehingga siswa pun sadar bahwa ada guru yang senantiasa memperhatikan yang diberikan lewat pesan-pesan motivasi dalam ruang belajar online, selalu ada doa dalam setiap sujudnya untuk siswa agar senantiasa bisa memegang komitmen terhadap tanggung jawab terhadap dirinya. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara mengenai merdeka belajar adalah “ Dimana ada kebebasan disitulah ada disiplin yang kuat. Sungguh pun disiplin itu bersifat self disiplin, yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya dan peraturan yang demikian itu harus ada didalam suasana yang merdeka”(Ki Hajar Dewantara)

Pada akhirnya merdeka belajar merupakan sebuah pola yang digagas oleh pemerintah dalam upaya bangkit dan membangun sebuah ketahanan terhadap suatu kondisi yang tidak nyaman, karena Pandemi inilah semua dipaksa untuk bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan kondisi sehingga dari kondisi saat ini bisa memicu untuk sebuah kreatif, sebuah inovasi sehingga hadir sebuah kebiasaan baru yang disebut dengan New Normal. Begitu juga dalam pendidikan saat ini, sudah saatnya kita keluar dari cara-cara lama yang akan mengukung kemampuan terhadap menghasilkan sesuatu, sudah saatnya untuk memerdekakan pola berpikir untuk bisa menghasilkan sesuatu ditengah pandemi saat ini, sehingga peran guru dalam dunia pendidikan meliputi dalam tiga hal yaitu menjadi teladan bagi siswa, menjadi penyemangat bagi siswa dan menjadi pendorong bagi siswa dalam mewujudkan merdeka belajar dan merdeka mengajar. Wallahu’alam

 

PROFIL PENULIS

Penulis bernama Eka Fitrianingsih Kurniawati akrab di sapa Eka lahir di sebuah ibu kota Indonesia Jakarta, tanggal 6 Juli 1984 dari pasangan Ayah Suradi Rusdi dan almh Ibu Tuti Yumarsih. Saat ini penulis aktif sebagai Guru SMA di sebuah sekolah berasrama SMA ISLAM NURUL FIKRI BOARDING SCHOOL LEMBANG. Penulis bisa di hubungi melalui 

FB ; Haneeya

IG ;  Haneeya