Refleksi tentang bagaimana setiap pilihan menghadirkan ritmenya sendiri, dan bagaimana kita menemukan harmoni di dalamnya
Belakangan ini, istilah work-life balance semakin sering menjadi topik pembicaraan. Rasanya hampir setiap orang mendambakan pekerjaan yang memungkinkan hidup tetap “seimbang”. Menikmati akhir pekan bersama keluarga, dan libur saat tanggal merah, sering kali menjadi gambaran ideal yang banyak dicari.
Namun, setiap profesi ternyata memiliki ritmenya sendiri. Di lingkungan boarding school, misalnya, ada rekan-rekan yang sudah memulai aktivitas bahkan sebelum azan Subuh berkumandang. Guru yang mendampingi proses belajar di kelas, lalu melanjutkan perannya sebagai pembimbing ketika siswa membutuhkan. Ada yang membersamai siswa hingga aktivitas mereka berakhir di malam hari. Ada yang bekerja di balik layar, menjalankan berbagai hal yang sering kali tak terlihat. Bahkan adakalanya, mereka juga harus melanjutkan pekerjaannya di luar jam kerja karena situasi yang mengharuskannya.
Masih ada banyak peran lain yang mungkin jarang mendapat sorotan. Namun justru dari peran-peran itulah seluruh aktivitas di boarding school dapat berjalan dengan baik dan saling melengkapi. Ritme kerjanya memang tidak selalu sama, tetapi semuanya menjadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan belajar dan kehidupan yang baik bagi para siswa.
Di lingkungan boarding school, ritme kehidupan memang berbeda. Aktivitas pendidikan tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Para siswa tinggal di lingkungan pesantren, sehingga ada dinamika yang berlangsung sepanjang hari. Guru, Pembina asrama dan tenaga kependidikan lainnya tentu tidak bekerja selama 24 jam, tetapi sesekali ada jadwal piket di hari Ahad, kegiatan di luar jam kerja, atau tanggal merah yang tetap diisi dengan aktivitas sekolah.
Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini terasa berat dan tidak sedikit yang bertanya, “Kapan sebenarnya waktu untuk keluarga?”. Tapi, sebagian yang lain justru merasa ada banyak hal yang patut disyukuri. Lokasi kerja yang dekat dengan tempat tinggal, kesempatan bertemu keluarga di sela aktivitas dan jam istirahat, hingga masa libur semester yang relatif panjang menjadi sisi lain yang juga layak diperhitungkan.
Tidak ada yang salah dengan dua sudut pandang tersebut. Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan cara memaknai pekerjaannya masing-masing.
Yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa hampir semua pekerjaan memiliki konsekuensinya sendiri. Ada yang menikmati libur setiap akhir pekan, tetapi harus menghabiskan beberapa jam di perjalanan setiap hari. Ada pula yang bekerja dengan sistem shift sehingga waktu berkumpul bersama keluarga harus menyesuaikan. Bahkan ada yang bekerja jauh dari keluarga dalam jangka waktu yang lama.
Artinya, tidak ada pekerjaan yang sepenuhnya bebas dari konsekuensi. Yang berbeda hanyalah bentuknya.
Di titik ini mungkin kita dapat melihat konsep work-life harmony.
Jika work-life balance berbicara tentang pembagian waktu yang tampak seimbang, maka work-life harmony lebih menyerupai sebuah orkestra. Dalam sebuah orkestra, tidak semua alat musik berbunyi bersamaan. Tidak semuanya menjadi pusat perhatian. Ada saat biola mengisi melodi utama, lalu berganti dengan denting piano, sementara alat musik lain menunggu gilirannya. Justru karena setiap instrumen dimainkan pada waktu yang tepat, lahirlah sebuah harmoni.
Mungkin kehidupan juga bekerja dengan cara yang sama.
Ada hari-hari ketika kegiatan begitu padat. Ada fase ketika pekerjaan menuntut lebih banyak waktu dan perhatian. Namun ada pula momen ketika kita bisa menikmati makan siang bersama keluarga karena rumah yang dekat, mengantar anak ke sekolah tanpa harus terjebak kemacetan, atau menikmati libur semester yang cukup. Semua itu mungkin tidak hadir dalam satu hari yang sama, tetapi menjadi bagian dari ritme kehidupan yang utuh.
Barangkali inilah yang disebut work-life harmony. Bukan mencari keseimbangan yang sama setiap saat, melainkan belajar menyelaraskan diri dengan ritme kehidupan yang kita pilih. Bukan karena ritme itu selalu mudah, tetapi karena kita memahami bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi sekaligus nilai yang menyertainya.
Setiap pilihan tentu membawa konsekuensinya masing-masing. Menerimanya bukan berarti berhenti berharap keadaan menjadi lebih baik atau menutup mata terhadap kelelahan yang sesekali datang. Namun, ketika kita melihat pekerjaan dengan lebih utuh, kita belajar untuk tidak terburu-buru membandingkan kehidupan kita dengan ritme orang lain, karena bisa jadi mereka pun sedang bergumul dengan kondisi yang berbeda. Selama masih memilih berada di jalan ini, mungkin yang perlu terus dibangun bukan hanya kemampuan menjalankan pekerjaan, tetapi juga kemampuan hidup selaras dengan ritme yang menyertainya
Mungkin pada akhirnya, kita tetap boleh bertanya, “Apakah pekerjaanku dapat memberiku work-life balance?” Namun, barangkali ada pertanyaan lain yang tak kalah penting untuk direnungkan,“Sudahkah aku membangun ritme hidup yang selaras dengan pilihan yang sedang kujalani?”
Karena ketika kita berhenti membandingkan ritme hidup dengan milik orang lain, kita akan lebih mudah melihat makna dari perjalanan kita sendiri. Setiap profesi menghadirkan tantangan, sekaligus kesempatan untuk bertumbuh. Dan mungkin, yang membuat seseorang benar-benar bahagia bukanlah karena menemukan pekerjaan yang sempurna, melainkan karena mampu menemukan makna dalam pilihan yang sedang dijalani.
Penulis : Nur Upik., S.Si
Penyunting dan Penerbit : Siti Muna., S.I.Kom


